28/05/16

Terjebak Teman Lama

Seringnya jadi tempat curhat teman-teman menghadirkan rasa nyaman dan bangga tersendiri bagi M0kka. Meski terkadang curhat yang datang kepadanya tidak mengenal waktu, ada juga saat dia sedang tidak ingin diganggu. Misalnya sekarang. Dikala tenggat waktu laporan kerja sudah di ujung tanduk, tiba-tiba telpon genggamnya berkokok (ring tone ayam jago). Cerrie, teman sekolahnya dulu, juga menjadi teman nongkrong dua bulan terakhir ini. Waktu itu Cerrie tiba-tiba menghubunginya dengan getol, ajak nongkrong, ajak bikin proyek bareng, rencanakan reuni dan sebagainya. M0kka sedikit berbuncah hati karena terasa ada kesan Cerrie mengaguminya, serta berusaha menjadi sahabat. 

"Ya, Cerr?" M0kka menjawab telpon.
"Elu lagi sibuk ya Ka? Gue ganggu bentar ya, pliiisss, bentaaarrr ajaaa," suara Cerrie di seberang telpon jelas terdengar memohon dan memelas.
Bukan M0kka jika tidak jatuh iba dan meninggi empati seketika itu juga.
"Oke. Lu kenapa?" Responsnya kemudian, tanpa melepaskan ayunan jemarinya di papan ketik komputer.
"Jangan sambil ngetik dong, butuh konsen nih dengerin gue," Cerrie mulai mendominasi dengan bujukan alih-alih memaksa.
"Oke."

"Ingat Hustia?"
M0kka mengangguk tanpa bersuara, seolah-olah Cerrie virtual di hadapannya. Di seberang sana Cerrie nyerocos.
"Kemarin gue telpon dia, gue sampein dong rencana reuni sambil diskocil (diskusi kelompok kecil) kita tempo hari," 
"Rencana elu," potong M0kka.
"Wateva. Kan kita emang mo reuni kecil," Cerrie tak peduli. Lalu, "gue bilang ke dia kalau kita pengen bikin pertemuan nanti di rumah dia yang gede dan asik itu,"
"Elu yang pengen," potong M0kka lagi.
"Wateva. Tau ngga dia bilang apa?" Suara di seberang meninggi, lengkingan yang terdengar jengkel dan tak sabar.
"Ya?" M0kka merespons.
 
"Dia nolak, Ka! Si Hustia ngga welkam kita ngumpul di rumahnya. Idih, mentang-mentang orang kaya. Sombong banget deh tuh anak sekarang. Padahal dulu gue yang bantuin dia sampe jadian sama lakinya itu. Elu tau juga kan? Bukannya elu juga pernah bantuin dia waktu lagi skripsi?"
M0kka mulai jengah. Tapi ia berusaha sabar dengan mengelus dahi, dan berkata,
"Jadi elu merasa ditolak sama Hustia? Pastinya dia punya alasanlah. Anaknya lagi sakit kalik? Atau mereka mau ke luar negeri." Yang terakhir itu disadari M0kka sebagai asumsi yang agak ngawur, sebab dia belum pernah dengar cerita lengkap tentang Hustia.

Tak disangka malah disambut antusias oleh Cerrie yang terus membombardir.
"Naahh. Sombong kan? Mentang-mentang tiap bulan ke luar negeri, trus ngga mau lagi ketemuan dengan kita-kita teman lamanya! Mending kita coret aja nama dia dari daftar mitra disko buat proyek kita. Gue sih ngga kenapa-napa, biasa aja perasaan gue. Emangnya cuma dia teman kita yang kaya? Masih banyaaakk, dan mereka welkam sama kita."
"Elu malah ngelantur. Jadi sekarang udah puas curhatnya Cerr? Gue masih banyak pe-er kerjaan nih." Akhirnya M0kka tega juga mengatakan itu, sebab si boss melambai memanggilnya dari pintu ruangan boss.  
"Ya udah deh kalau elu capek dengerin gue. Jadi gitu ya, yang penting elu udah tau tentang si Hustia. Udah ya Ka, baibai!" Cerrie langsung memutus hubungan telpon. Meski agak terperangah awalnya, namun M0kka segera tak ambil pusing. Lebih baik dia ke ruangan boss sekarang, daripada kena espe.

Beberapa hari kemudian, setelah dedlen terlewati dan agak santai rasanya, M0kka bermaksud tidak lembur hari ini. Ia berkemas, memasukkan barang-barang ke laci, ke lemari dan ke tasnya. Telpon genggam berkokok. Ningtyas. Segera dipencetnya tombol hijau.
"Hai Ning, apa kabar?" Sapanya ringan dan riang.
"M0kka, lagi dimana?" Jawab Ningtyas tak kalah riang.
"Masih di kantor, baru mau pulang. Kenapa? Mo ngajakin hengot?" Sambil ketawa kecil M0kka mengisyaratkan dia bersedia.
"Lusa aja ya. Hari ini aku dikasih tugas tambahan sama boss, sampe besok masih lembur," lalu, "Eh, gossip Hustia seru juga ya. Kamu dengar darimana tuh?" Dari suaranya tertangkap si Ningtyas kurius bin kepo. Pastilah kurius, mana mungkin sempatkan telpon di sela-sela kerja yang padat.

"Gossip yang mana?" M0kka berkernyit. Ia berusaha mengingat-ingat pembicaraan telpon dengan Cerrie minggu lalu. Rasanya tidak ada gossip, selain curhatan Cerrie yang merasa permintaan dan usulnya ditolak Hustia. Penolakan Hustia juga bukan gossip, menurut M0kka, haknya Hustia untuk tidak atau belum bersedia. Ia masih bingung.
"Lho? Katanya berita itu dari kamu, Ka. Makanya aku telpon nih, pengen dengar langsung dari kamu." Seru Ningtyas di seberang sana.
M0kka makin bingung. Berita dariku? Ruwet nih.
"Kamu dengar gossip apa dan dari siapa, Ning?"

"Itu loh, tentang suami si Hustia yang pejabat korup, makanya mereka kaya banget sekarang, rumahnya tersebar dimana-mana. Trus katanya Hustia kalau belanja ke luar negeri tiap bulan, pembantunya sampe diajak buat bantuin angkat koper belanjaan. Trus ternyata suaminya selingkuh sama temen Hustia, temen kita juga si Benedik yang udah cerai itu. Sempat dipergokin sama Hustia di Singapur. Bener ceritanya gitu ya Ka? Ceritain dong lengkapnya, penasaran nih." Ningtyas bersemangat sekali.

M0kka sampai terduduk saking kaget. Untung saja mug kopi tidak tersambar tangannya yang mengibas-ibas. Sungguh. Jantungnya berdebar lebih kencang bukan karena jatuh cinta, tapi marah, sedih, geram dan agak takut. Terpaksa diteguknya sisa kopi dingin di mug, sedikit ampas ikut terseruput dan membuatnya batuk.
"Ka, kamu kenapa? Kok malah diam?" Suara Ningtyas terdengar sayup-sayup karena telpon genggamnya agak jauh dari telinga.  "I'm ok, Ning. Lagi minum tadi. Kamu bilang tadi kalau berita Hustia bersumber dariku? Siapa yang bilang?" M0kka berhasil mengatasi perasaannya.
 
"Cerrie. Tapi kamu jangan tanya dia ya, karena aku sudah janji ke dia tidak akan nanya langsung ke kamu. Aku ngerti kok kalau gossip itu rahasia sebenarnya. Aku juga ngerti kenapa kamu cuma mau bercerita ke Cerrie karena kalian sahabat dekat banget. Tapi, sueerr Ka, aku penasaran. Tau ngga, aku akan ketemu Hustia minggu depan, karena suaminya itu koleganya bossku, sebagai sekretaris aku diajak boss ikut rapat dengan suami Hustia, nah kata boss isteri koleganya itu bakalan ikut. Si boss heran juga kok si isteri ikutan rapat kerjaan. Begitu Ka, jadi kamu ngerti kan kenapa aku ngebet ingin tau, ya buat persiapan aja supaya aku ngga salah-salah kata. Bayangin aja Ka, nemenin boss rapat sekaligus reuni teman sekolah yang gossipnya seru begitu. Ih kebayang kan?"

Celotehan panjang lebar Ningtyas seperti api di kepala M0kka. Dengan bibir bergetar ia berkata-kata lirih,
"Hati-hati menyikapi gossip, Ning. Aku sama sekali tidak tau dan belum pernah dengar cerita tentang Hustia, apalagi gossip kayak gitu.
Dan, hati-hati pada teman yang bermulut manis. Jangan sampai kamu terjebak seperti aku." 

Sejak itu, M0kka tidak pernah lagi mengangkat telpon dari Cerrie. 

----------------------
[RS]

26/05/16

Hantukah Itu?

Kamis malam. Terlalu banyak ia tidur hari ini, karena pesanan telah selesai. Sehabis mencuci alat-alat sarapan, M0kka selonjoran di balai-balai hingga terlelap. Jam duabelas lebih sedikit M0kka terbangun oleh bunyi berdebam di luar. Ia melongok dari lubang angin, tidak ada apa-apa. Dibenahinya kancing blus bagian atas, lalu bergegas keluar melalui jendela. Kunci pintu masih rusak, jadi untuk sementara M0kka keluar-masuk rumah lewat jendela yang telah dicongkelnya sendiri.
Setelah mencapai bordes kecil tempat anak tangga pertama bermula, ia sudah bisa menyaksikan kerumunan besar orang di kejauhan. Pasti ada kejadian. 

Pak Subur yang doyan makan jerohan dan merokok merk buah di sebelah rumahnya itu memberi kabar dengan santai,
"Ada tabrakan metrokeliling dengan tiga mobil lain dan empat motor. Dua orang mati di tempat,"
"Ohya?!"
"Tau darimana, pak? Kan pak Subur ngga kliatan habis dari sana." M0kka menunjuk ke perempatan tempat kejadian nun jauh.
"Saya lihat tadi salah satu rohnya yang mati lari-lari ke sini berdarah-darah." Jawabnya acuh tak acuh.
"Trus, kemana dia?" tanya M0kka.
"Gak tau deh. Lagi cari pertolongan kalik. Paling-paling entar malam ada yang nangis-nangis di lorong." Pak Subur melengos bergantian menghirup ulang asap rokok cap buah yang sudah dikeluarkannya tadi.
M0kka angkat bahu, lalu kembali ke rumah. 

Malam Jum'at. Teman-teman di grup watsap ramai berceloteh tentang hantu, rumah tua angker, pohon beringin bergenderuwo, kunti yang melayang, dan sebagainya.
Tadi siang, M0kka malas makan. Tepatnya malas memasak. Kalau Kodda menginap, barulah ia menanak nasi dan menggoreng tempe, ditambah merebus ketimun dan sawi. Karena cuma sendirian ia lebih memilih ngemil krupuk dan kripik oleh-oleh dari kantor Kodda.
Malam ini perut lapar tidak tertahan. Terpaksalah ia merebus mie instan sekaligus dua bungkus. Lalu menyantap dengan cepat supaya rasa lapar segera hilang. Tidak ada yang salah dengan menyantap mie instan dua bungkus.

M0kka belum mengantuk, ia mengambil kotak jahit dan kaos-kaos yang sudah dipilihnya kemarin. Hobi baru M0kka, memodifikasi kaos-kaos menjadi baju trendy. Kemarin ia berhasil mendapatkan aneka kancing, gesper kepala, benang warna-warni dan cat untuk pakaian.
Grup watsap masih riuh dengan celotehan seputar fenomena malam jum'at.
Sayup-sayup telinga M0kka menangkap suara tangis. Makin lama makin jelas. Tangisan itu datang dari luar jendela tempat ia keluar-masuk lima hari terakhir ini. Ia menggeleng ke kanan, berusaha mengingat-ingat. Jendela itu sudah dikunci, tapi gordennya masih tersingkap sedikit.
Perlahan-lahan didekatinya jendela sambil menggapai ujung gorden untuk ditarik rapat. Namun.... di celah gorden jendela yang tersingkap itu, sebuah kepala bergoyang-goyang.. kepala itu seperti tidak lagi ditumbuhi rambut, tampak seolah-olah basah berlumuran darah sangat banyak. M0kka hanya melihat kepala tanpa wajah, kepala yang terus bergoyang-goyang bahkan seolah hendak melayang ke langit-langit.
"Hantukah itu?!"
M0kka memejamkan matanya
----------------------
[RS]